BELAJAR ATAU BUBAR

Sebuah ungkapan arif pernah bertutur : “we can never step into the same river twice  “. Ini bisa terjadi, karena tiap detik air sungai itu berganti. Sama dan sebangun dengan sungai, sejarah dan kecenderungan juga demikian. Tidak ada sejarah dan kecenderungan yang berulang sama persis sama, jangankan dalam dimensi tahunan dan abad, dalam dimensi harian saja sejarah dan kecenderungan muncul dengan wajah berbeda.

Lihat saja sejarah negara, kisah perseorangan, satu-satunya yang tetap hanyalah perubahan. Diluar perubahan hanya ada perubahan. Belakangan perubahan itu bahkan bergerak dengan kecepatan tinggi dan semakin tinggi. Runtuhnya rezim politik yang berkuasa dalam waktu lama, semakin tidak jelas batas-batas persaingan, pengaruh teknologi informasi yang demikian dahsyat, semakin banyak dan dalamnya knowledge content, hanyalah sebagian saja dari bukti dahsyatnya perubahan.

Lebih dari sekedar memaksa kita untuk berubah, sejumlah aturan main,paradigma dan sejenisnya bahkan dijungkirbalikkan oleh kecenderungan dan perubahan.

Mirip dengan pengandaian sungai di atas, kecenderungan memang berganti wajah setiap saat. Ia tidak menyisakan alternatif lain selain harus berubah. Sayangnya merubah mind set memiliki derajat kesulitan yang jauh lebih tinggi disbanding merubah teknologi dan variable perubahan lainnya. Baik karena factor keberhasilan, kenyamanan, pendidikan, pengalaman, atau sebab lainnya.

Dalam bingkai hidup seperti ini, tentu saja hanya sebuah gerakan bunuh diri kalau ada pelaku organisasi yang hidup nyaman dalam comfortable zone of mind. Sebuah wilayah berfikir tanpa penyangkalan. Sinyal apakah anda sedang bunuh diri atau tidak, sebenarnya mudah dan sederhana. Coba perhatikan kehidupan anda dalam mengelola keyakinan-keyakinan anda, kalau dalam waktu yang amat lama tidak ada perubahan, alias berputar dari itu ke itu, inilah bentuk bunuh diri yang halus dan tidak manusiawi. Halus, karena tidak anda sadari. Tidak manusiawi, karena keluar dari kebiasaan umum manusia untuk bunuh diri. Lebih lebih, sudah tidak berubah dalam waktu yang amat lama, ditambah dengan kebiasaan alam bawah sadar yang kerap berujar : “ saya sudah berpengalaman bertahun-tahun, saya memiliki setumpuk harta, saya keturunan bangsawan, saya mempunyai orang-orang yang rela berkorban demi kepentingan saya “ dan sederetan kebanggaan lainnya.

Inilah deretan manusia yang sangat potensial membuat Indonesia bubar. Dibandingkan bubar, lebih baik membekali diri dengan kebiasaan belajar. Pondasi dalam aktivitas belajar salah satunya adalah keberanian untuk secara rajin melakukan penyangkalan terhadap paradigma dalam mengelola keyakinan-keyakinan kita sendiri.

Darimanapun paradigma dan keyakinan itu sendiri datang, entah dari pengalaman, pendidikan atau rekomendasi pakar sebelum dibunuh secara halus dan tidak manusiawi, sebaiknya disangkal, disangkal dan disangkal.

Sebagiamana dituturkan secara amat kaya oleh sejarah, perkembangan peradaban bias demikian pesat karena kental dengan penyangkalan.

Bumi datar disangkal dengan bumi bulat, manusia tidak bias terbang disangkal dengan pesawat terbang, bulan tidak dapat diduduki disangkal dengan penerbangan Apollo, dunia yang penuh batas negara dijebol dengan teknologi internet, telepon dengan kabel disangkal dengan telepon seluler.

Maka kayalah secara ide dan inovasi dalam membuat penyangkalan. Dahulu, manusia dihormati identik karena keturunan darah biru, kekayaan fisik dan materi. Sekarang, sebagaimana dibuktikan dan harus selalu dibuktikan kekayaan intelektuallah yang amat menentukan, didukung dengan rasa saling menghormati sesama manusia tanpa membedakan tetesan darah dan keturunan. Lompatan kemajuan, perubahan bias dilakukan siapa saja, asal ya itu tadi kekayaan intelektual dan bathin terkelola dengan memadai. Dulu, kecenderungan adalah sesuatu yang given dan mesti diadaptasi. Sekarang, ada banyak orang yang justru maju karena menciptakan kecenderungan.

Mirip tentang sungai, ada yang mengatakan sungai itu air. Ada yang menyangkal bahwa sungai itu adalah cekungan dan lekukan tanah.

Dalam kasus ini, kegiatan penyangkalan tidak me- nol kan apalagi mensubtitusikan argumen yang disangkalnamun hendaknya saling melengkapi

Proses melengkapi ini seyogyanya dilakukan oleh pemimpin atau manajemen puncak. Bisa dibayangkan  apa jadinya Indonesia jika dipimpin oleh manusia-manusia yang tidak pernah belajar. Jauh lebih berguna belajar dibandingkankan bubar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s