MENGAPA BETON ITU PERLU DIUJI?

MOHON MAAF, BLOG SAYA SUDAH BERPINDAH KE ALAMAT http://www.dwikusuma.com

Apabila Anda ingin komentar anda mendapat tanggapan dari saya, silahkan kunjungi http://www.dwikusuma.com  kita akan berjumpa lagi di blog tersebut.

Saya senang sekali mendapatkan pertanyaan dari seorang mahasiswa teknik sipil di tempat saya bekerja. Pertanyaannya begini Mbak, mengapa beton itu perlu diuji? Jarang sekali ada yang bertanya demikian, biasanya mereka sering menganggap membuat beton itu mudah dan sederhana. Baca juga tulisan saya yang berjudul Apakah Beton itu

Proses Uji Tekan Beton Silinder

Gambar. Proses Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton

Beton adalah salah satu pilihan material bangunan selain kayu, baja dan smart material yang banyak berkembang dewasa ini. Beton normal dibuat dari campuran air, semen, kericak/split, dan pasir. Meskipun terkesan sederhana, untuk membuat beton yang baik masing-masing bahan penyusun beton ini harus memenuhi persyaratan. Yuk, mengenal berbagai macam pengujian  dari mulai pemilihan bahan penyusun beton, pembuatan hingga beton terbentuk dan menjadi suatu konstruksi bangunan.

Air
Air sebagai bahan pembuatan beton harus air bersih, tidak mengandung lumpur, tidak mengandung minyak dan tidak mengandung benda terapung lainnya yang dapat dilihat secara visual. Air dalam pembuatan beton juga tidak boleh mengandung benda-benda tersuspensi lebih dari 2 gram/liter, tidak boleh mengandung garam, asam, zat organik  lebih dari 1,5 gram/liter, tidak boleh mengandung ion Klorida (Cl) lebih dari 500 ppm, tidak boleh mengandung senyawa sulfat lebih dari 1000 ppm. Persyaratan lebih ketat lagi untuk membuat beton pra tekan yaitu air tidak boleh mengandung ion Klorida (Cl) lebih dari 50 ppm. SNI (Standart Nasional Indonesia ) untuk air dapat anda lihat di Rak Kode. Kemudian dari sisi jumlah penggunaaan air, anda dapat lihat pada tulisan saya dengan judul Apakah Campuran Adukan Beton Anda Sudah Benar? dan PERANCANGAN CAMPURAN ADUKAN BETON YANG BAIK (BERDASARKAN SNI 03-2834-2000)

Semen

Semen portland merupakan bubuk halus yang diperoleh dengan menggiling klinker (yang diperoleh dari pembakaran suatu campuran yang baik dan merata antara kapur dan bahan-bahan yang mengandung silika, aluminia, dan oxid besi), dengan batu gips sebagai  bahan tambah dalam jumlah yang cukup. Bubuk halus ini bila dicampur dengan air, selang beberapa waktu dapat menjadi keras dan digunakan sebagai bahan ikat hidrolis (Tjokrodimulyo, 2007).  Beberapa jenis semen dan spesifikasinya dapat anda lihat di halaman Rak Kode.

Kericak/Split

Butiran mineral yang merupakan hasil disintegrasi alami batu-batuan atau juga berupa hasil mesin pemecah batu dengan memecah batu alami. Kericak atau split untuk bahan penyusun beton normal dibedakan beberapa ukuran, yaitu 0,5 sampai dengan 1 cm, 1 sampai dengan 2 cm, 2 sampai dengan 3 cm dan 3  sampai dengan 4 cm. Bahan ini harus memenuhi persyaratan SNI 03-6861.1-2002 tentang Spesifikasi Bahan Bangunan-Bagian A: Bahan Bangunan Bukan Logam, yaitu Butir-butirannya keras dan tidak berpori, kadar bagian yang lemah bila diuji dengan goresan batang tembaga maksimum 5%, Butiran yang pipih dan panjang tidak boleh lebih dari 20%, kekal, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca, Tidak boleh mengandung zat-zat reaktif terhadap alkali, Tidak boleh mengandung lumpur, Modulus halus butir antara 6-7,1 dengan variasi butir sesuai standard gradasi.

Pasir

Pasir untuk bahan penyusun beton harus memenuhi persyaratan SNI 03-6861.1-2002 tentang Spesifikasi Bahan Bangunan-Bagian A: Bahan Bangunan Bukan Logam yaitu butir-butir tajam dan keras, dengan indeks kekerasan ≤2,2 ; Kekal, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca, Tidak mengandung lumpur, tidak mengandung zat organis terlalu banyak, Modulus halus butir antara 1,5-3,8 dengan variasi butir sesuai standar gradasi, Khusus untuk beton keawetan tinggi, agregat halus harus tidak reaktif terhadap alkali.

Setelah bahan-bahan penyusun beton tersebut diuji sesuai dengan standartnya apakah layak sebagai bahan penyusun beton, apabila sudah lolos dan dapat dipergunakan. Maka selanjutnya proporsi dan jumlahnya pun dihitung sesuai dengan sifat dan kriteria bahan-bahan penyusunnya berdasarkan SNI 03-2834-2000 tentang  Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. SNI tersebut dapat anda baca pada halaman Rak Kode.

Pada saat proses membuat beton, beton segarpun harus diuji. Pengujian Slump, Slump merupakan selisih tinggi dari adukan dalam kerucut terpancung terhadap tinggi adukan setelah cetakan diambil. Slump merupakan pedoman yang digunakan untuk mengetahui tingkat kelecakan suatu adukan beton, semakin tinggi tingkat kelecakan maka semakin mudah pengerjaannya (nilai workability tinggi). SNI 1972.2008 tentang Cara Uji Slump Beton dapat anda lihat pada halaman Rak Kode. Proses pengujian pada saat beton dibuat juga ada aturannya, yaitu Tata Cara Pembuatan dan Perawatan Benda Uji di Laboratorium, SNI tersebut juga dapat anda baca di Rak Kode.

Setelah beton dibuat dan dicetak, kemudian beton harus menjalani pengujian mutu kuat tekan, pengujian kuat tekan beton pada konstruksi yang sudah berdiri dapat dilakukan dengan pengujian angka pantul yaitu dengan alat hammer test. Pengujian ini alat ditembakkan (dipantulkan pada struktur beton) kemudian pada alat terbaca suatu nilai. Menguji beton dengan hammer test tidak sesederhana mematulkan alat saja, tetapi ada perhitungan dan tata caranya. Tata cara terdapat di NSPM PU (Norma, Standart Pedoman dan Manual Pekerjaan Umum).

Pengujian tidak hanya pada kuat tekan beton saja, terdapat pengujian kuat lentur beton diantaranya diatur dalam SNI 03-4154-1996  pengujian kuat lentur beton dengan beban terpusat langsung, pengujian kekedapan air  seperti yang diatur dalam Spesifikasi Beton Bertulang Kedap Air, SNI-03-2914-1992. dan masih banyak lagi pengujian-pengujian untuk beton.

Pengujian-pengujian dari awal hingga akhir tersebut dilakukan supaya beton yang terbentuk sesuai dengan direncanakan, kembali lagi pada definisi beton itu sendiri, beton pada dasarnya adalah campuran dari beberapa bagian material, yaitu agregat kasar (split), agregat halus (pasir), semen dan air dengan komposisi tertentu untuk mencapai kekuatan pada durasi waktu tertentu. Kesimpulannya, mengapa beton harus diuji? Supaya beton yang dibuat dapat mencapai kekuatan dan umur layan atau durabilitas sesuai yang direncanakan.

Note : Jadilah pembaca yang baik, jika anda menganggap tulisan saya bermanfaat silahkan dicopy atau anda sebar luaskan. Tentunya tetap mencantumkan sumbernya. Hargailah kekayaan intelektual seseorang, maka orang lain pun akan menghormati anda.

3 thoughts on “MENGAPA BETON ITU PERLU DIUJI?

  1. Perkenalkan kami dari CV Rakaju Lab Teknik
    Menawarkan alat alat Laboratorium Tanah,beton dan Aspal / alat pengeboran di lapangan
    Semua alat kami buat di pabrik kami sendiri,dengan buatan anak- anak bangsa
    Semua alat sudah terkalibrasi dengan geransi 1tahun.
    Kami mohon dengan sangat bantuan bpk,mempromosikan produk kami di Pu,karna alat buatan lokal laboratorium penelitian Tanah,Beton dan Aspal tidak kalah buatan Luar.
    Hormat kami
    Agung Aziz
    Hp. 081312119907 / 082121444881
    Tlp. (022) 93651311
    Fax. (022) 93649943
    Email rakajulabteknik@yahoo.com
    Jln Raya Andi 158 Padalarang,(Bandung Barat)

  2. Pingback: Menguji Kekuatan Beton Dengan Angka Pantul (Hammer Test) | dwi kusuma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s